Essay.

Pentingnya menggunakan tanda baca yang baik dan benar : titik dan koma

Disusun untuk memenuhi tugas bahasa Indonesia

Yang di ampu oleh :

Ahsani Taqwiem

Disusun Oleh :

 

 

Muhammad Luffi Qosyaiyi (2210117310006)

 

 

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN S-1 BAHASA INGGRIS

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

2022

 

Essai ini Ditulis atas gundah dan kesalnya penulis atas fenomena yang sering terjadi kepada penulis belakangan ini, seringnya kesalahpahaman yang terjadi antara pembaca dan juga penulis sudah mencapai tingkat yang menggangu, fenomena ini sering terjadi tidak hanya di media buku saja namun menjalar sampai ke media sosial, dan ditulis nya essai ini menjadi sarana untuk mengeluarkan uneg – uneg sang penulis, sekaligus mengamati bagaimana bertambahnya kesadaran untuk menggunakan tanda baca baik koma, titik, dan lain – lain di berbagai lingkungan, baik secara  face – to – face maupun secara Virtual.

 

Di era sekarang, jika bercermin ke beberapa dekede yang di masa lalu, di masa sekarang, pertukaran informasi bisa di lakukan dengan sangat cepat dan mudah, namun di balik kemudahan itu munculah suatu fenomena yang sangat mengganggu, yakni “Typo” yang tidak lain diakibatkan oleh effisien nya sistem pertukaran informasi itu sendiri, memunculkan kecenderungan untuk terburu – buru dalam menulis gagasan yang dicoba tuk disampaikan kepada pembaca, pola perilaku ini marak terjadi dan tak memandang baik muda atau pribadi yang berumur sekalipun.

tanda baca koma dan titik sendiri mempunyai fungsi yang hampir sama namun dengan peletakannya di tempat yang berbeda, yakni untuk memberikan jeda kepada suatu kata, kalimat, maupun paragraf. Namun koma hanya untuk memberikan jeda sejenak di antara unsur – unsur dalam suatu pembilangan atau pemerincian, sedangkan titik digunakan untuk mengakiri suatu pernyataan agat tak tercampur dengan pernyataan lain. (Mustakim, 2016)

Di media sosial sendiri mengingat keterbatasan informasi vokal sebagai pemisah unsur dan pernyataan menjadikan koma dan titik menjadi sangat penting, kesadaran masyarakat mulai bangkit perihal cibiran dan olokan Netizen perihal kesalahan penulisan tersebut, respon yang diberikan pun beragam, dari mulai kritik yang halus dan pedas sudah menjadi makanan sehari – hari bagi yang tidak ingin memperbaiki diri.

Namun sayangnya Kesadaran ini dirasa masih kurang signifikan di kalangan para pelajar linguistic yang menggunakan media pena dan kertas sebagai media penuangan gagasan mereka sehari – hari, yang menyebabkan lambat nya perkembangan linguistic di sektor ini bahkan menyentuh di fase stagnan.

Secara sadar para pelajar, terutama yang sudah menginjak bangku Sekolah Menengah atas sudah mulai sadar akan hal ini, namun belum nenemui dorongan untuk mmemperbaiki dan belajar tuk bisa menggunakan tanda baca yang baik dan benar, 

Di buktikan dengan banyak nya mahasiswa yang mengeluh bahkan putus asa karena banyak nya revisi di karya ilmiah mereka, dan kebanyakan dari kekeliruan yang mereka punya tak lain dari ejaan dan peletakan tanda baca yang kurang tepat, jikalau kesadaran akan pentingnya tanda baca ini sudah di ajarkan sejak anak menduduki kursi Sekolah dasar, ilmu pengetahuan dan pertukaran informasi tekstual akan berkembang pesat.

 

Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan dalam essay ini seputar Uneg – uneg saya dalam hal kebahasaaan dan sastra, saya harap pemerintah bisa lebih peduli akan kemajuan literatur di indonesia agar tak ada lagi kesalahpahaman antar manusia agar tak mengundang permusuhan.

 

Azizah, L. N. (2022, august 8). About us: Gramedia. Retrieved from Gramedia: https://www.gramedia.com/literasi/komponen-abiotik-dan-biotik-dalam-ekosistem/#1_Produsen

Mustakim, G. H. (2016). PEDOMAN UMUM EJAAN. Jakarta,: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar